Permasalahan Klasik yang Membutuhkan Penanganan Intensif

Pernahkah siswa anda mengungkapkan “jika di dalam kelas bersama guru bisa mengerjakan, tetapi ketika di luar setelah mata pelajaran lain, sudah lupa, tidak bisa lagi”. Kalimat ini sering terdengar dari siswa saya. Maka dari itu, jangankan menunggu satu bulan untuk melaksanakan ulangan harian, menunggu tiga bulan untuk melaksanakan ujian tengah semester, atau menunggu akahir semester untuk melaksanakan ujian akhir semester, menunggu pertemuan berikutnya saja dalam rangka melanjutkan materi, siswa akan merasa kesulitan. Beberapa upaya guru yang dilakukan untuk membangkitkan ingatan siswa tentang materi yang telah dipelajari seperti mengulang kembali materi yang lalu, menggali stimulus respon siswa agar bisa sinkron dengan yang disampaikan guru, membuat guru harus bekerja ekstra demi mengejar target waktu yang telah direncanakan.
Permasalahan ini tentu bukan masalah baru dalam belajar matematika siswa, melainkan permasalahan klasik yang terus membayangi langkah guru dalam menjalankan tugasnya. Untuk itu, perlu suatu penanganan yang serius terhadap permasalahan klasik ini, guru harus benar-benar serius mencari solusinya, menggali lebih dalam dimana letak kekeliruan guru dalam menyampaikan materi dalam proses pembelajaran, mencari alat bantu atau alat peraga yang benar-benar dapat membuat belajar siswa menjadi bermakna sehingga siswa teringat selamanya tentang materi yang dipelajari. Melalui pembelajaran yang bermakna, diharapkan apa yang dipelajarai siswa benar-benar melekat dan difahaminya.
Sebuah ilustrasi sederhana tentang seorang anak yang belajar bersepeda. Jika seorang anak yang belum bisa bersepeda sama sekali, kemudian kita berikan teori secara matang tentang apa dan kegunaan perlengkapan sepeda secara menyeluruh, misalnya rem, starter, gas, dan lain sebagainya,  kemudian kita tinggalkan begitu saja, mana mungkis anak tersebut bisa bersepeda. Tetapi jika anak tersebut setelah kita berikan teori secara lengkap dan matang kemudian kita pandu untuk mencoba menjalankan sepeda tersebut, tentu sebuah pengalaman berharga didapat anak yang membuat dia bisa bersepeda. Begitu juga jika sebaliknya, jika anak tanpa mengetahui teorinya tetapi langsung diberikan sepeda tentu dapat kita bayangkan sendiri apa jadinya.
Dalam kasus ini, sebuah teori tentunya harus didukung dengan sebuah praktik yang benar-benar membuat seorang anak mempunyai pengalaman yang bermakna sehingga anak tersebut mampu membangun dan mengembangkan pengetahuannya yang diperoleh agar benar-benar tertancap dalam pemahamannya.
Kita lanjutkan kasus tentang anak yang belajar sepeda, ketika anak tersebut sudah mampu dan menguasai cara bersepeda dan mempraktikannya secara menyeluruh, kemudian sepeda tersebut ditaruh dan tidak dipergunakan selama satu tahun atau dalam jangka waktu tertentu, kemudian dalam kesempatan waktu dia mengambil sepedanya lagi untuk dipergunakan, tentu kita bisa bayangkan anak tersebut masih bisa bersepeda atau tidak. Meskipun terkesan agak kaku, tentu dia masih bisa mengendarainya, hanya butuh beberapa waktu saja unutk membiasakannya.
Apa yang terjadi jika anak tersebut gagal dalam belajar bersepeda,, kemudian sepeda tersebut ditaruh dalam jangka waktu tertentu sampai suatu saat anak tersebut mengambil sepedanya dan ingin mengendarainya, tentu kita juga dapat membayangkan apa yang terjadi. Tidak mungkin anak yang awalnya tidak bisa bersepeda kemuadian dalam jangka waktu tertentu langsung bisa bersepeda tanpa belajar terlebih dahulu.
Kasus ini dapat kita hubungkan dengan siswa kita. Ketika siswa kita belum benar-benar faham dan bisa tentang suatu materi yang dipelajari, kemudian dia belajar yang lain, atau kita melompat ke materi yang lain, tentu saja siswa akan merasa kesulitan bahkan tidak bisa sama sekali ketika menghadapi ulangan harian, ulangan tengah semester, atau ujian akhir semester. Hal ini terjadikarena ketika siswa menaruh pengetahuannya yang didapat dalam proses belajar belum benar-benar difahami. Tiba-tiba saja waktunya datang untuk melaksanakan ulangan harian, ulangan tengah semester, atau ujian akhis semester.
Maka dari itu, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab seorang guru untuk memberikan sebuah teori dan praktik yang benar-benar membuat siswa merasa bisa dan faham apa yang dipelajarinya. Salah satu contoh adalah penggunaan media, guru berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan media yang cocok dengan materinya, mengembangkan dan memodifikasi media yang ada karena disesuaikan dengan kondisi siswanya. Hal ini mencerminkan sikap guru yang ingin memberikan sesuatu yang lebih terhadap siswanya. Tetapi perlu diperhatikan juga bahwa masih ada guru yang menitik beratkan penggunaan media sebagai jembatan untuk memberikan pemahaman terhadap suatu kosep atau teori, tetapi mengabaikan media yang menjembatani siswa agar bisa praktik dalam mengimplementasikan teori yang didapat.
Jika kondisi ini benar-benar bisa diperoleh siswa, dia memahami dan merasa bisa dengan materi yang dipelajarinya, tentu ketika siswa menghadapi ulangan harian, ulangan tengah semester, atau ujian akhis semester dengan jarak waktu tertentu dari yang dipelajri, tentu siswa akan merasa tidak kesulitan dalam mengerjakannya nanti. Bahkan jika dia lupa sekalipun, untuk mempelajrinya kembali tidak akan membutuhkan waktu yang lama, bisa-bisa sekali buka dan baca dia akan teringat dan bisa kembali materi yang telah dipelajrinya terdahulu.
Marilah kita mencari solusi dari masalah yang dihadapai siswa secara klasik ini, agar siswa kita benar-benar berhasil dalam belajarnya, proses belajarnya menjadi bermakna dan mampu disimpan dalam memorinya selamanya sebelum dia belajar materi yang lain atau sebelum kita melanjutkan materi berikutnya.

Komentar

  1. sebagai seorang guru harus memahami permasalahan dasar yang dihadapi siswanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beljar bernakna..pembelajaran yang bermakna.
      Kata kuncinya bagaimana anak belajar agar apa yang dipelajari menjadi bermakna.dab siswa akan merasa membutuhkan karena apa yang dia pelajari terasa bermakna.
      Nah bagaimana melakukannya itu yang harus terus kita cari. Bagaimana kita berupaya miningkatlan kualitas pembelajaran kita.

      Hapus
    2. luar biasa, memang betul, kuncinya di pembelajaran dan belajar bermakna

      Hapus
  2. Yang menjadi persolannya kita yang kurang mampu..mewunudkan pembelajaran yang bermakna.
    Faktornya..yang paling dominan kita malas untuk mencari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan kata "malas" yang tepat untuk menggambarkan kondisi ini, melainkan kita yang membutuhkan up date pengetahuan, mungkin begitu

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku Kerja Guru